Fajar belum menyingsing ketika sayup-sayup lantunan ayat suci Al-Qur’an mulai terdengar dari asrama Pondok Tahfid Putri Al Fatah Darussalam, Wajak. Di saat sebagian besar dunia masih terlelap, para santriwati telah memulai langkah mereka demi mengejar impian mulia: menjadi seorang Hafidzah (penghafal Al-Qur’an).
Kehidupan di pondok pesantren tahfid bukan sekadar tentang menghafal baris demi baris kitab suci, melainkan sebuah proses pembentukan karakter, kemandirian, dan kedisiplinan yang dibalut dalam kehangatan ukhuwah Islamiyah.
Mari kita intip bagaimana rutinitas dan dinamika keseharian para pejuang Al-Qur’an di Al Fatah Darussalam Wajak.
1. Menjemput Berkah di Waktu Sepertiga Malam
Rutinitas santriwati dimulai sejak pukul 03.30 WIB. Udara sejuk khas Kecamatan Wajak menemani mereka terbangun untuk melaksanakan Shalat Tahajud berjamaah. Setelah itu, sembari menunggu waktu Subuh, suasana hening malam dimanfaatkan untuk murojaah (mengulang hafalan) mandiri di sudut-sudut masjid atau teras asrama.
2. Setoran Hafalan (Ziyadah) Setelah Subuh
Bagi seorang santriwati tahfid, waktu setelah Shalat Subuh adalah waktu emas. Dengan pikiran yang masih segar, mereka menghadap ustazah satu per satu untuk melakukan ziyadah (menambah/setoran hafalan baru). Lantunan ayat demi ayat disimak dengan penuh ketelitian demi menjaga makhraj dan tajwid yang sempurna.
3. Kemandirian dan Sarapan Pagi
Pukul 06.30 WIB, aktivitas beralih ke ranah domestik. Di sinilah karakter kemandirian dipupuk. Para santriwati berbagi tugas (piket) mulai dari membersihkan lingkungan pondok, mencuci, hingga merapikan kamar. Setelah semua rapi, mereka berkumpul untuk menikmati sarapan pagi bersama yang penuh dengan nilai kesederhanaan dan kebersamaan.
4. Menyeimbangkan Ilmu Agama dan Formal (08.00 – 12.00 WIB)
Al Fatah Darussalam berkomitmen mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam Al-Qur’an, tetapi juga berwawasan luas. Pada jam ini, santriwati mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) Madrasah/Formal atau pendalaman kitab kuning (tafaqquh fiddin), fikih wanita, dan akhlak.
5. Istirahat Sejenak (Qailulah) dan Shalat Dzuhur
Setelah makan siang dan Shalat Dzuhur berjamaah, para santriwati diwajibkan untuk beristirahat siang (qailulah). Istirahat yang cukup ini sangat penting untuk memulihkan stamina mental dan fisik agar mereka kembali fokus menghafal di sesi berikutnya.
6. Mengasah Hafalan di Kala Senja (Ashar hingga Isya)
Sesi sore dan malam diisi dengan murojaah jamaah atau berpasangan (tasmi’).
Ba’da Ashar: Mengulang hafalan bersama teman sekamar untuk memperkuat ingatan.
Ba’da Maghrib: Kegiatan keagamaan, zikir sore, dan persiapan untuk setoran esok hari.
Ba’da Isya: Evaluasi malam oleh ustazah pengasuh asrama untuk memastikan perkembangan setiap santriwati terpantau dengan baik.
7. Hangatnya Ukhuwah di Kamar Asrama
Pukul 21.30 WIB adalah waktu bersiap untuk tidur. Sebelum memejamkan mata, biasanya menjadi momen paling hangat di mana sesama santriwati saling bercerita, saling memotivasi saat ada yang jenuh, atau sekadar berbagi tawa. Di sinilah mereka menemukan keluarga kedua yang ikatannya begitu kuat karena disatukan oleh Al-Qur’an.
Kesimpulan
Kehidupan di Pondok Tahfid Putri Al Fatah Darussalam Wajak adalah potret indah dari perjuangan, kesabaran, dan cinta pada Al-Qur’an. Jauh dari orang tua tidak membuat para santriwati ini layu; sebaliknya, di bawah bimbingan para asatidz-asatidzah, mereka tumbuh menjadi muslimah yang mandiri, berakhlak mulia, dan siap memancarkan cahaya Al-Qur’an di tengah masyarakat.